Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.

Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”

(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)

Ref : Menuju Puncak Akademi Ramadhan karangan Budi H

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.

Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”

(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)

BATAM DALAM KENANGAN


Kulihat mentari bundar dilangit Batam
Membara redup, lembut tiada menyilaukan
Sebentuk siluan pepohonan dari hutan nan perawan
Getarkan hati akan keagungan Tuhan
Yang merindu pertemuan dengan Ar-Rahman
Allah, Allah,Allah, Allah
Pagi yang indah saat ku disana
Allah, Allah,Allah, Allah
Seindah ukhuwah yang menyala didada
Di Pagi itu Nagoya Berseri
Di Muka kuning kudapatkan rumah suci
Disana kulabuhkan sejenak di pesanggrahan hati
Sambil menganyam gaung rindu sanubari
Menguak tabir kebesaran illahi,,,

Alunan nada dari Suara Persaudaraan mengajakku kembali menjelajah ke pulau Batam. Jejak-jejak kenangan indah dengan saudara-saudara seperjuangan kembali menghampiri memory-ku. Ingin rasanya kembali kesana, ke Masjid Nurul Islam, pusat tarbiyah di kawasan Industri Batamindo.
Ingin kembali kusinggah di Masjid Agung Batam Center, ingin kembali ku kunjungi jembatan Barelang, ingin kembali ku kukunjungi Pulau Nguan (tempat kita Ber-Wisata Dakwah),ingin kembali ku jelajahi Nagoya, Batu Aji, menyusuri pantai mawar dan semua tempat-tempat yang kita jelajahi bersama.
Saudara-saudaraku REMITA, bagaimana kabar antum???
Apakah ghirah kita masih seperti dulu, lebih menyala atau meredup??? hanya antum yang dapat menjawabnya. Kebersamaan singkat kita, adalah sebuah awal titik ledakan yang mengantarkanku dalam keindahan dakwah ini, merajut jejak-jejak sejarah dalam keindahan ukhuwah, menghadapi berbagai tantangan yang membuatku lebih memahami arti kehidupan ini.
Sahabat, ku ukirkan sebuah kata rindu pada desir angin, kuharap engkau menerima pesan rinduku. Dimanapun kalian sekarang berada, semoga kita tetap istiqomah, tetap merajut jejak-jejak dakwah, karena ia adalah pilihan. Masih teringat nasehat seorang teman bahwa “dakwah tidak membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah”. Semoga kita lebih menjadi insan yang produktif, yang senantiasa member keberanfaatan bagi siapapun yang ada disekeliling kita.
Keep SMILE, UKHUWAH, and ISTIQOMAH !
Luv U All cz Allah,,,,,

Vika ‘sang pena dari desa’
Selasa, 20 juli 2010, 11:25 pm

Sejenak Me-refreshkan Diri








Bismillah,,,

Sahabat…

Tak dapat dihindari kesedihan, ujian, cobaan yang membuat kita takut, cemas dan menyiutkan nyali terkadang mewarnai perjalanan kehidupan kita.

Pada saat itu aku ingin mengajakmu kembali sejenak ke dunia kanak-kanak kita.

Dunia yang menakjubkan, dunia yang dipenuhi dengan beragam warna dan corak nuansa.

Dunia yang kita pandang bahwa setiap hal yang baru itu penuh dengan keajaiban.

Dunia yang kita lakoni dengan penuh kegembiraan (tanpa beban).

Sahabat….

Dunia kanak-kanak kita belum hilang.

Dia masih tersimpan di memory kita.

Saat itu kita memandang bahwa hidup ini adalah kehidupan yang penuh dengan keceriaan.

Kita menjalaninya dengan penuh suka cita

Kita tak pernah takut mencoba dan tak pernah gentar dalam memahami arti kesalahan.

Sahabat…

Jika saat ini kau merasa sedih, dilanda ujian dan sedang mengalami cobaan

Aku ingin mengajakmu kembali ke dunia kanak-kanak kita

Dunia yang masih tersimpan di memory kita

Sejenak kita kembali ke dunia kanak-kanak kita

Pejamkan matamu dan ikutlah bersamaku

Ku ajak engkau berpikir bebas menerabas batas

Ku ajak engkau berpikir merdeka menembus khayalan

Ke dunia kanak-kanak kita, dunia yang menakjubkan,,,

Me-Refreskan diri sejenak

Dari amanah2 yang terembankan di pundak

Bukan berhenti, tetapi mencoba untuk memulihkan semangat

Dipuncak titik kejenuahan

@ Juni’10

“SUNGGUH, PERTOLONGAN ALLAH ITU AMAT DEKAT”

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. Al-Baqarah : 214)

Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah SWT. mungkin ada getir yang kita rasakan. Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka kegetiran menjadi sebuah keniscayaan. Hal terbaik yang sebaiknya kita lakukan adalah senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan berbuat yang terbaik untuk mendapatkan keridhaanNya. Bukan keluhan yang terucap, sebab hanya orang-orang yang tidak beriman yang putus asa akan adanya sebuah harapan. Seperti kisah kaum muslimin ketika menjalani perang Khandaq dalam ayat 214 surat Al Baqarah di atas. Dalam kondisi paling kritis pun, seorang muslim tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap Allah, apalagi mengeluh terhadap kondisi yang berlaku. Sungguh pertolongan Allah amat dekat!

Pagi itu Ahad, tanggal 28 Maret 2010 Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) sebuah organisasi kampus yang ku ikuti mengadakan sebuah kegiatan “Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK)” bagi mahasiswa program studi sebagai salah satu upaya mendidik calon-calon pemimpin organisasi kemahasiswaan intra kampus. Sebagai panitia kegiatan acara tersebut maka sebuah kewajiban kami sebagai panitia untuk memberikan kontribusi terbaik dalam menyediakan sarana dan prasarana demi terwujudnya tujuan kegiatan yang kami rumuskan. Sie HPT (Humas, Perlengkapan, dan Transportasi) itulah amanah yang ku emban dalam kegiatan tersebut.

Materi pertama berlangsung kurang begitu baik, adanya miss komunikasi dengan pemateri menyebabkan salah satu media (kertas plano) yang digunakan untuk kegiatan tersebut kurang dan harus dipenuhi segera sebelum acara diskusi kelompok dimulai. Aku mengajak Ayu’ (salah seorang panitia kegiatan) untuk pergi membeli kertas plano tersebut, tempatnya cukup jauh dari kampus kami kurang lebih 10 km. Dengan semangat yang tinggi aku meminjam motor Yunita seorang teman panitia yang lain (maklum aku belum mempunyai motor, walaupun SIM C sudah ditangan) tak lupa STNK-nya pun ku minta.

Pada saat pergi sengaja aku tidak membawa tas (hal ini melanggar pesan ibu’ bahwa kemanapun aku pergi beliau selalu berpesan untuk selalu membawa tas, harapannya agar barang-barang yang ku bawa dapat tersimpan dengan baik), hanya sebuah dompet yang ku bawa dan ku percayakan untuk dibawa Ayu’, kebetulan baju gamisnya berkantong. Setelah sampai disebuah toko yang dituju kami segera mencari kertas plano yang kami butuhkan, Alhamdulillah kami segera mendapatkannya. Setelah melakukan transaksi dikasir kami segera meninggalkan toko tersebut untuk segera kembali kekampus.

Ditengah perjalanan, tepatnya disebuah perlintasan kereta api kami berhenti karena sebuah kereta api melintas, pada saat itu Ayu’ memberitahuku bahwa dompet yang aku titipkan kepadanya tidak ada. Tenang, kucoba untuk mengelola hati ini dengan baik, ku paksa otakku untuk berpikir positif, mungkin terjatuh sewaktu membayar parkir tadi begitu hibur hatiku pada diriku sendiri, akhirnya kami sepakat untuk kembali ke toko tempat kami membeli kertas.

Ku putar arah motor untuk kembali ke toko yang tadi kami datangi, kuperlambat laju motor yang kami kendarai, sepanjang perjalanan tak luput kami memperhatikan setiap jengkal jalan yang kami lalui, berharap dompetku masih tergeletak di sebuah tempat. “Rabb, izinkan hamba untuk cerdas hati mengambil ibrah dari kejadian yang Engkau timpakan kepada hamba” do’aku,,,

Sampai ditoko tempat kami membeli kertas tadi, kami menemui bapak penjaga parkir, siapa tau beliau melihat dompetku jatuh disekitar area parkir, pikir kami, tetapi beliau mengatakan bahwa beliau tidak melihat dompet disekitar area parkir. Akhirnya kami kembali (pulang), kegundahan mulai hadir dihatiku, semua surat-surat pentingku ada dalam dompet itu; SIM, STNK Yunita, KTP, KTM, ATM, beberapa kartu nama dan surat-surat berharga lain ada didalamnya. Kebetulan dompetku tidak berisi uang, uang lima puluh ribu yang menghuni dompetku, kemarin sore dipinjam seorang teman kost untuk ongkos pulang kerumahnya, dan aku belum sempat mengambil uang lagi karena kesibukanku mempersiapkan acara LDK.

Tak luput kami tetap memperhatikan jalan yang kami lalui, berharap dompet coklat itu menantikan kami untuk memungutnya, tetapi harapan itu terlalu kecil jalan raya yang kami lalui cukup ramai. “Yogyakarta apakah mungkin dikota ini dompet kecilku bisa ditemukan?” tanyaku pada diriku “Insyaallah bisa, bukankah Allah yang mengenggam dunia ini, jika Dia menghendaki dompet itu kembali ke tanganku, apa yang sulit bagi-Nya?” jawab hatiku. Sebelum sampai di perlintasan kereta api kami akhinya memutuskan untuk melapor ke polisi.

Tiba di sebuah Pos Jaga yang berada di pertigaan jalan raya kami mendatangi Polisi yang bertugas saat itu, kami melaporkan kejadian yang kami alami.

“Pengaduan kehilangan langsung ke Polsek mbak” begitulah saran yang diberikan setelah mendengar laporan kami. Setelah mendapatkan penjelasan letak Polsek yang harus kami datangi, segera kupacu kuda roda dua milik temanku bersama Ayu’ ke sebuah tempat yang telah ditunjukkan. “Sabar ya Vik” ucap Ayu’ menguatkanku, dia melihat perubahan yang terjadi padaku.

Sampai dipolsek yang kami tuju, kami segera melaporkan kejadian yang kami alami kepada seorang polisi.

“bagaimana pak, apakah dompet saya bisa di temukan?” tanyaku penuh harap

“kemungkinan kecil mbak” begitu jawab polisi tersebut

Terkejut aku mendengar hal itu, hmmm mengapa polisi ini tidak memberi ketenangan, apakah dia tidak mengetahui psikologis orang yang sedang kehilangan benda yang penting baginya (ucapku dalam hati). Tak sadar air mataku mulai jatuh, bagaimana nanti aku mempertanggungjawabkan hal ini pada orangtuaku?, Ayu’ melihatku menangis, rasa bersalahnya semakin bertambah

“maafkan aku vik” ucapnya

“gak papa, aku hanya bingung bagaimana memberitahu orangtuaku nanti” jawabku

“biar aku saja yang bilang, ini salahku”

“jangan, kamu gak salah, aku yang salah, ibu’ku selalu berpesan jika aku pergi, aku diminta untuk membawa tas sebagi tempat dompet, tetapi aku melanggar pesan beliau” ungkapku.

Kucoba menata hati ini, ketarik nafas dalam-dalam untuk menenangkannya, Rabb bantu hamba, untuk segera terlepas dari kegundahan ini pintaku dalam hati. Polisi yang menerima laporan kami hanya menanyakan bebarapa hal yang berkaitan dengan STNK motor, ya hanya benda itu yang dapat diperjuangkan untuk dibuat kembali dalam waktu dekat, surat-surat yang lain, hanya dapat diselesaikan dikota asalku. Karena motor yang kami pakai adalah motor teman, kami tidak dapat memberikan keterangan yang polisi inginkan terkait dengan STNK tersebut. Akhirnya kami kembali kekampus untuk meminta informasi mengenai STNK kepada Yunita, dan kembali lagi ke polsek setelah mendapatkan informasi tersebut.

Tiba di kampus, segera kami menuju ruangan tempat acara LDK berlangsung, segera kami mencari Yunita dan menjelaskan kejadian yang terjadi pada kami. Yunita memaafkan kami dan menerima kejadian ini dengan ikhlas, tetapi dia belum bisa memberikan informasi yang kami perlukan, karena surat-surat motornya ada dirumahnya, “Insayallah nanti aku sms kalian” ujar Yunita.

Setelah memberikan penjelasan kepada Yunita, aku pulang kekost untuk mengambil buku tabunganku. Sampai dikost aku menelpon Call Center Bank tempat aku menabung dan segera memblokir ATM-ku. Setelah semua selesai aku kembali kekampus. Raut mukaku mungkin berubah, tetapi aku berusaha menyembunyikan semua yang terjadi, masih ada amanah yang harus aku selesaikan, menjadi moderator untuk materi terakhir acara LDK, aku harus semangat ujarku menyemangati diriku sendiri.

Sebagian teman-teman yang mengetahui kejadian yang terjadi kepadaku memberi support, terimakasih teman-teman, kalianlah saudara-saudara terbaik. Alhamdulillah akhirnya, kuselesaikan amanahku menjadi moderator dimateri terakhir dengan baik. Acara LDK berakhir, dan berlanjut ke acara “evaluasi kegiatan” dengan teman-teman panitia.

Alhamdulillah, akhirnya tiba dikost. Adzan maghrib berkumandang bertepatan dengan selesainya aku membersihkan diri. Waktu mustajab diantara adzan dan iqomat ku manfaatkan dengan memanjatkan do’a kepada-Nya (kebetulan saat itu aku tidak shalat). “Rabb sesungguhnya Engau Maha Mengetahui bahwa diri ini begitu lemah, Engkau mencoba menjadikan hamba insan yang kuat dengan cobaan ini, Ya Allah Engkaulah pengenggam alam semesta ini, saat ini Engkau tahu dimana letak dompet yang Engkau amanahkan kepada hamba, jika Engkau masih berkenan dompet itu kembali ke tangan hamba, hamba mohon ya Rabb, semoga ada tangan terbaik yang mengembalikannya, tetapi jika tidak maka hamba yakin Engkau akan menggantinya dengan dompet yang lebih baik, bantulah hamba untuk mempertanggungjawabkan hal ini kepada orangtua hamba” Amiin,,,,Insyaallah jika halal pasti kembali” ku teringat artikel yang pernah aku baca.

Nada sms handphoneku sedikit mengejutkanku, “pasti dari ibu” pikirku, dan dugaanku tepat, seperti biasa ibu menanyakan keadaanku.

Bismillah,,,ku yakinkan diri untuk memberitahu ibu,,,aku menelponnya.

“Assalamu’alaikum” sapa hangat ibu dari ujung telephone

“Wa’alaikumsalam” jawabku

“giman nduk, sehat sajakan?”

“Iya buk, Alhamdulillah vika sehat, tapi vika ada masalah” ujarku to the point

“ada apa?” Tanya ibu’

“Dompet vika hilang, jatuh sewaktu tadi pergi…(bla, bla, bla)”ungkapku bercerita pada ibu’.

Panjang lebar aku menceritakan kejadian yang aku alami pada ibu, aku tidak sadar bahwa kalimat yang ku gunakan untuk menyampaikan hal ini kurang tepat dan aku tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi saat itu. Aku lupa bahwa Ibu mudah cemas mendengar hal-hal kurang baik yang terjadi pada anaknya, saat ia jauh dari sisinya. “ maafkan vika buk, vika nggak bisa menjaga amanah ibu” ujarku

“Itu peringatan, agar kamu lebih berhati-hati” tegas ibu, menasehatiku. Setelah ibu memberikan beberapa solusi, pembicaraan kami berakhir. “insyaallah jika dompet itu masih menjadi hakmu, akan kembali” begitu pesan ibu yang terus teringat di memoryku tes, tes, tes,,, air mata itu tak terbendung aku merasa bersalah kepada ibu. Ku flashback kembali kejadian yang terjadi padaku hari ini, begitu singkat, Rabb, apakah ini suatu terguran atas kelalaianku beberapa hari ini yang sedikit menjauh darimu,,, muhasabahku belum berakhir, saat kantuk itu menyerangku dan melelapkanku.

Kumandang adzan subuh membangunkanku, ku paksa diriku untuk tersenyum “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” azamku. Setelah membersihkan diri dan membaca do’a dan dzikir pagi kupersiapkan buku-buku kuliahku. Suara sms dari handphoneku terus berdering, untaian kata-kata simpati dan motivasi mengalir dari beberapa sahabatku. Nasehat dari teman-teman kostpun terus mengalir, indahnya ukhuwah ini.” Saat Allah mengambil salah satu kenikmatan yang ada pada kita, masih banyak kenikmatan lain yang Allah anugerahkan kepada kita” pesan salah satu mbak kostku.

Jam delapan pagi, sebuah sms kembali hadir memecah kesendirianku, nia (teman kostku) memberitahuku bahwa dompetku ditemukan, keterangan lengkap datang saja ke Pak Agus (Salah satu Staff TU Fakultas), begitu pesan pendeknya menginformasikan. Subhanallah, Alhamdulillahirabbil’alamin,,,do’a itu terjawab, ku bersujud syukur dengan limpahan nikmat ini, ku beritahu Ayu mengenai hal ini, dan segera kami bersiap untuk kekampus.

Sampai di kampus, segera kami temui Pak Agus untuk mendapatkan kejelasan informasi mengenai keberadaan dompetku. “Tadi ada seorang polisi yang telephone ke TU dan menginformasikan bahwa beliau menemukan sebuah dompet atas nama Vika P, mahasiswa Pendidikan Matematika, baru saja mau saya umumkan mbak” begitu Pak Agus menjelaskan “silahkan hubungi no ini mbak, dompet mbak ada di beliau” lanjut Pak Agus dengan memberikan secarik kertas berisi nomer handphone atas nama Bapak Sukamsi, “terimakasih pak” ucap kami mengakhiri pembicaraan.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,,,,”Ya Allah nikmat yang mana lagi yang akan hamba dustai?” ungkapku dalam hati, segera ku hubungi Bapak Sukamsi untuk megkonfirmasi kebenaran penemuan dompet tersebut. Setelah berbincang-bincang kami sepakat untuk bertemu di Kelurahan Terban. Segera kupacu kuda roda dua bersama Ayu untuk bertemu dengan Pak Sukamsi.

Alhamdulillah setelah sempat nyasar di beberapa tempat, akhirnya kami menemukan Kelurahan Terban, segera kami temui Pak Sukamsi, dan setelah melakukan proses serah terima aku dan Ayu pulang. Hati ini begitu bahagia, dompet coklat itu kembali lengkap dengan semua isinya, tidak berkurang suatu apapun. Terimakasih Pak Sukamsi, lewat tangan anda Allah mengizinkan dompet coklatku kembali, semoga Allah yang membalas semua jasa-jasa anda. Dan segera ku telephone Ibu untuk memberitahukan berita ini, “Alhamdulillah nduk, Dompet itu masih rezeki kamu, lain kali harus lebih hati-hati menjaga amanah.” Begitu pesan Ibu. Tak lupa teman-temanku juga kuberitahu atas kabar bahagia ini.

Rabb,,,

Sesungguhnya peristiwa ini memberikan berbagai pelajaran untuk hamba,,

Di dalam kehidupan ini Sabar dan Syukur selalu berpasangan,,,

Dan sungguh, pertolongan-Mu begitu dekat,,,,

Maka nikmat yang mana lagi yang akan hamba dustai???

Setelah segala nikmat ini Engkau Berikan???

Peristiwa ini adalah peringatan-Mu untuk hamba,,,

Untuk lebihmendekat kepada-Mu,,,,

Sungguh Artikel yang pernah aku baca

Kini menjadi kisahku sendiri,,,,

Jika Halal, Insyaallah Pasti Kembali

Ibu maafkan anakmu yang lalai untuk menaati nasehat kebaikanmu

Aku berjanji untuk tidak mengulanginya kembali

Dan Allah menjadi saksi,,,,,

Memory @ Yogyakarta, 29 Maret 2010

Membangun Kecerdasan Hati

Mensinergikan Kecerdasan Intelektual, Emosi, dan Spiritual

Sebuah Gerakan Penyadaran Potensi Fitrah Manusia

(HI = IQ + EI + SI)


Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna dan terbaik dibandingkan dengan makhluk yang lainnya (QS. 95:4), karena sangat tergantung pada hatinya: “Kalau hati itu baik maka baiklah seluruh badannya, tapi kalau hati itu rusak, maka rusaklah seluruh badannya” (HR. Muttafaq’alaih). Sedang Prof. DR. Dr. Rusdi Lamsudin seorang guru besar di Fakultas Kedokteran UGM menyatakan dalam teori kedokteran tidak ada seorang dokterpun yang berani menegaskan hati yang mana yang dimaksudkan Rasulullah itu. Untuk itu kita akan mempelajari dan mendalami ilmu Allah yang tertebar di alam ini.

Potensi Hati yang diberikan oleh Allah berfungsi untuk memahami ayat-ayat Allah (QS. 22:46; 16:78; 7:79), baik yang tertulis (kitab suci) maupun yang tidak tertulis (alam semesta) (QS. 3:190-191). Menurut Imam Al Ghozali hati dibedakan menjadi 2, hati yang kasar (fisik) yang berupa liver/hepar/heart, sedangkan hati yang halus (non fisik) disebut dengan akal. Potensi fitrah yang akan kita kuatkan di sini adalah hati yang halus itu (akal), dengan demikian yang kita maksudkan dengan membangun kecerdasan hati disini adalah membangun kecerdasan hati yang halus yaitu kecerdasan akal.

Orang yang berakal (Ulil Albab; QS.3:190-191) adalah orang yang berdzikir, berfikir, dan ikhtiyar, sehingga akal dapat terdiri dari 3 bagian pentin, yaitu: Iman, Rasio, dan Rasa. Secara pemahaman Iman melahirkan SI (Spiritual Intelligence), yaitu kecerdasan spiritual, sedang Rasio melahirkan EI (Emotional Intelligence), yaitu kecerdasan intelektual, dan Rasa melahirkan EI (Emotional Intelligence), yaitu kecerdasan emosi.

Untuk memahami potensi fitrah yang merupakan kesempurnaan manusia, maka perlu difahamkan dan dikuatkan kembali katiga potensi (unsur) dasar/fitrah manusia, yaitu Iman, Rasio, Rasa. Dr. Taufik Pasiak mengistilahkan dengan Otak Rasio, Otak Intuitif, dan Otak Spiritual. Sebagai perbandinga, Malaikat punya Iman tapi tidak punya rasa, sehingga malaikat tidak pernah menyimpang (selingkuh), sedangkan binatang punya sejenis rasa (instink) tapi tidka punya rasio, sehingga tidak bisa dibedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Potensi pertama adalah Rasio (Otak Rasional). Rasio inilah sebagai sarana untuk kita untuk mengindera semua yang ada di alam jagad raya ini, misalnya kita dapat melihat manusia, rumah, mobil, kedudukan. Otak rasio ini cenderung otak kiri (Short Term Memory) yang cara kerjanya antara lain: konvergen, digital, abstrak, proporsional, analitik, linear, rasional, dan obyektif. Potensi Fikir/Rasio yang melahirkan IQ tetap harus dimiliki, karena inilah yang memberikan sentuhan pada kehidupan manusia dari aspek pemahaman (Faqih) ilmu dan teknologi untuk dapat mengelola alam ini denganbaik. Ini dapat dilatih dengan memahami dan menganalisa permasalahan yang dihadapi setiap saat atau dengan mengamati langsung baik melihat secara nyata (QS. 3:137) maupun dengan tayangan multi media. Namun kalau hanya dengan rasio (otak kiri) saja, ini tidaklah cukup, karena hal ini sering menjebak manusia kalau sekedar mengukur keberhasilan manusia hanya berdasar IQ saja (Sri Gunung), karena ternyata dalam suatu penelitian diperoleh hasil bahwa maksimum IQ hanya 20 % memberi kontribusi terhadap keberhasilan manusia. Tapi untuk membangun IQ manusia susah payah melakukan pengamatan, penyelidikan bertahun-tahun, namun bagaimana dengan menyadarkan potensi yang lain?

Potensi Kedua yang ada pada manusia adalah Rasa (Otak Intuitif), yaitu kemampuan seseorang untuk dapat merasakan apa yang ada pada sekelilingnya sehingga lahirlah kecerdasan emosi (EI). Kecerdasan rasa (otakintuitif) ini cenderung menggunakan otak kanan (Long Term Memory), yang cara kerjanya antara lain: divergen, analogi, primer, konkret. sintetik,holistik, relasional, subjektif. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasullullah SAW terhadap seorang sahabatnya, sebagai berikut: “Ada dalam suatu riwayat diceritakan bahwa seorang sahabat menghadap Rasulullah SAW, dia secara IQ sudah faham bahwa berzina itu tidak boleh bahkan hafal ayatnya (QS. 17:32), tetapi dia tetap minta izin pada Rosul untuk berzina. Rosul faham bahwa sahabat tersebut kecerdasan emosinya (EI)nya rendah, sehingga sahabat tadi diajak merasakan dengan ditanya: bagaimana kalau suatu saat Ibumu yang dizinai orang lain?, bagaimana kalau suatu saat saudara perempuanmu yang dizinai orang lain?, bagaimana kalau istrimu yang dizinai orang lain?, dan bagaimana kalau anak kamu yang dizinai orang lain, boleh?. Semuanya ditentang oleh sahabat tadi, yang akhirnya dia tidak jadi berzina, karena dia sadar kalau dia menzinai seorang perempuan pasti ada orang lain yang tidak setuju dan kalau ketahuan akan dibunuh, seperti yang dia rasakan dan pikirkan, apakah itu anaknya, saudaranya, suaminya, atau bapaknya dari perempuan yang dia ajak berzina.

Kecerdasan Emosi (EI) untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (empati) atau kalau Rosulullah bersabda: tidaklah beriman kalian kalau kalian tidak mencintai orang lian seperti kaian mencintai dirimu sendiri, ini semua tidaklah cukup dilatih dengan sekedar difikirka, tetapi harus berinteraksi dan merasakan secara langsung sehingga diperoleh suatu penghayatan (Tafakur). Proses mengolah rasa ini memerlukan penjagaan yang terus menerus secara kontinue, oleh karena itu membutuhkan pengkondisian hati dengan suatu yang nampak (real), misalnya dengan terjun langsung pada akar permasalahan yang kita hadapi (tidak cuek).

Potensi Ketiga adalah Iman (Otak Spiritual), inilah potensi fitrah yang selalu melekat pada diri manusia, siapapun dia pasti menginginkan masuk syurga, hidup dalam kedamaian, keikhlasan, kasih sayang dan mendapatkan keridhoan dari Sang Pencipta. Iman inilah yang melahirkan kecerdasan Spiritual (SI) yang dapat dilatih dengan merenung dan memaknai hidup ini dengan benar sesuai dengan aturan Sang Pencipta sehingga lahirlah pemaksanaan yang benar (Dabara) dalam hidup di Bumi Allah ini. Namun kesadaran ini kadang muncul kadang tenggelam. Saat muncul manusia mampu mendengarkan suara hatinya yang telah diturunkan oleh Allah dari nama dan sifat Allah ke dalam jiwanya (QS. 30:30; 7:172; 91:8-10), maka kemulian hidupnya dapat bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Namun ketika suara hari nuraninya hanya sayup-sayup terdengar dan bahkan akhirnya tenggelam tidak muncul, artinya terhalangi oleh penyimpangan kehidupan manusia yang datangnya hawa nafsu jelek manusia yang berupa: penyimpangan naluri (ketuhanan, kemanusiaan, kealaman), penyimpangan tabiat (kesukuan, lingkungan, pola hiudup), dan syahwat (harta, tahta, biologis), maka hidupnya tidak menentu (split personality), seperti pribadi tanpa petunjuk dan hidupnya akan banyak permasalahan.

Potensi keimanan ini sebenarnya telah tertanam di dalam jiwa manusia sejak kita di alam Ruh, sebagaimana Firman Allah (QS. 91:8-10): “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (kejelekan) dan ketaqwaannya (kebaikan), sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa it, dan sesungguhnya merugilah orang yang mnegotorinya” Jiwa bersemayam didalam hati, maka jiwa inilah tumpuan amal kebaikan dan keburukan manusia. Manusia diberikan kebebasan untuk mengelola jiwa, apakah mau disucikan atau dikotori?, dan bahkan perubahan (reformasi) suatu kaum/negara/lembaga tidak akan terjadi kalau tidak diawali perubahan dari masing-masing jiwa manusia yang terlibat dalam negara/lembaga itu sendiri (QS. 13:11).

Kata kunci untuk menyucikan/membersihkan semua yang menghalangi kefitrahan hari manusia itu adalah dengan ikhlas. Tetapi untuk membangun keikhlasan sehingga manusia berbuat hanya untuk Allah semata dan mampu mendekati dan menyatu dengan kehendak dan sifat Allah, tidaklah ssemudah membalikkan tangan kit, maka diperlukan suatu pengkondisian dan latihan yang kontinue setelah adanya penyadaran bahwa Allah-lah Sang Pencipta alam semesta beserta dengan isinya termasuk manusia, Allah-lah Sang Pemilik, dan yang berhak mengatur kehidupan di alam semesta ini. Ibarat kita pemilik rumah, maka kitalah yang berhak mengaturnya, dan kalau ada orang lain yang masuk tak diundang, merusak, mencuri, maka akan kita usir dan kita panggilkan polisi kalau perlu dibawa ke penjara. Betapa Maha Pengasih dan Penyanyangnya Allah terhadap manusia, karena banyak manusia yang melakukan perbuatan kesalahan di bumi Allah, tapi Allah masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana.

Suatu proses membangun kecerdasan hati agar selalu ikhlas dengan cara mensinergikan ketiga potensi fitrah manusia itu, yaitu antara Rasio (IQ) sehingga cerdas dan melahirkan simpati, Rasa (EI) sehingga lahirlah trampil dan melahirkan empati, dan Iman (SI) sehingga taqwa dan lahirlah telepati, diperlukan suatu koordinasian dengan suatu model pelatihan dengan didukung multi media untuk membangun kecerdasan hati mensinergikan kecerdasaan intelektual, emosi dan spiritual dengan harapan dapat dijadikan stimulasi untuk mendukung terciptanya manusia unggul (Ulil Albab) terpada antara IQ, EI, dan SI.(http://nanangmoe.wordpress.com/2007/05/08/membangun-kecerdasan-hati-mensinergikan-kecerdasan-intelektual-emosi-dan-spiritual-sebuah-gerakan-penyadaran-potensi-fitrah-manusia/)